Surat Perintah Bupati Nias Terkait Pemindahan Dokter ke Puskesmas Diprotes Facebookers

Foto: FB Patrianef Patrianef

Jakarta-SuaraNusantara

Kebijakan Bupati Nias Drs.Sokhiatulo Laoli MM memindahkan dokter spesialis ke Puskesmas mendapat ‘tamparan’ keras dari seorang facebookers. Adalah akun “Patrianef Patrianef” yang mempermasalahkan hal itu.

Dalam postingannya yang diunggah pada Selasa 13 Februari 2018, sekitar pukul 03.00 WIB, akun Patrianef Patrianef menuduh Bupati Nias arogan karena dua kali memindahkan dokter spesialis ke Puskesmas.

Masih segar diingatan kami Surat Perintah Bapak no 824.4/113/BKD/2017 tanggal 8 Juni 2017 yang memerintahkan pemindahan dr Yamoguna Zega dari RSUD Gunung Sitoli ke Puskesmas Bawolato. Kecamatan Bawolato,” tulis akun Patrianef Patrianef tersebut.

Meski akhirnya dr Yamoguna Zega akhirnya dipindahkan kembali ke rumah sakit, namun Patrianef Patrianef mengaku tidak habis pikir mengapa kejadian pemindahan dokter spesialis ke Puskesmas kembali terulang.

Tetapi saya tak habis pikir, kenapa pola yang sama Bapak lakukan lagi ke salah seorang dokter spesialis disana yaitu dr Spesialis Obgyn. Dr Fatolosa Panjaitan yang sekaligus Ketua IDI Cabang Nias,” tulis Patrianef Patrianef.

Menurutnya, modus pemindahan dr Fatolosa Panjaitan  persis sama dengan pemindahan dr Yamoguna Zega sebelumnya, yakni dengan mengeluarkan “Surat Perintah” bernomor: 824.4/15/BKD/2018 tanggal 8 Februari 2018 yang isinya memerintahkan dr. Fatolosa Panjaitan SpOG untuk pindah dari RSUD Gunung Sitoli ke Puskesmas Butomozoi Kecamatan Butomozoi Kabupaten Nias.

Patrianef Patrianef yang mengaku sebagai praktisi kesehatan dan aktif di LSM Kesehatan juga mengkritik istilah “Surat Perintah” yang digunakan dalam surat pemindahan kedua dokter tersebut. Menurutnya, “Surat Perintah” sangat tak lazim digunakan dalam surat pemindahan pegawai, karena seharusnya kalimat yang dipakai adalah “Surat Keputusan”.

Surat yang menunjukkan arogansi seorang Kepala Daerah dengan memakai istilah yang tak lazim dalam pemindahan pegawai, hanya dengan sebuah “ Surat Perintah” memindahkan seorang pegawai. Tak lazim karena dalam kepegawaian biasanya lebih dikenal Surat Keputusan untuk sebuah pemindahan pegawai,” tulisnya.

Dia mengaku tidak habis fikir, apa alasan Bupati Nias memindahkan dokter spesialis ke Puskesmas, karena menurutnya tenaga dokter spesialis lebih dibutuhkan di rumah sakit.

Kami juga tidak mengerti, ditengah permintaan Bapak Direktur RSUD Gunung Sitoli no. 800/4276/Peg tanggal 7 juni 2017 perihal memerlukan juga spesialis obgyn, anak, bedah dan anestesi. Bapak melepaskan dr Spesialis Obgyn di RSUD Gunung Sitoli,” ujar Patrianef Patrianef lagi.

Jika pemindahan kedua dokter ini merupakan bentuk hukuman, kata Patrianef Patrianef, maka dirinya dapat memastikan bahwa dalam disiplin pegawai negeri tidak ada pemindahan sebagai bagian dari hukuman disiplin.

Karena itu, dia meminta Bupati Nias untuk mengembalikan dr. Fatolosa Panjaitan SpOG ke RSUD Gunung Sitoli. Kepada Kementerian Kesehatan, dia juga meminta penempatan dokter spesialis Ke RSU Gunung Sitoli untuk dihentikan.

Kepada PB IDI, kami minta agar menegakkan marwah profesi ini, karena kesewenangan Kepala Daerah kepada Profesi ini bukan hanya kali ini terjadi. Sudah berulang kali. Dan kami lihat Perlindungan PB tidak terlihat atau jangan-jangan tidak ada sama sekali,” katanya.

Sampai Rabu, 13 Februari malam, postingan di akun facebook Patrianef Patrianef ini sudah dibagikan sebanyak 152 kali, dan diberi tanda like sebanyak 378.

Beragam komentar facebookers pun bermunculan di postingan yang sebenarnya merupakan surat terbuka untuk Bupati Nias tersebut:

“Bupati GAGAL PAHAM Emosi dikedepankan  Tabrak aturan Korbannya rakyat banyak Jangan salahkan aparat kesehatan Kalau angka kematian ibu di nias bertambah banyak” @EyangBro.

“beginilah jàdinya negeri dengan pemimpin ” tidak cukup akaĺ “…@ Hendra Moeslem Nurdin 

“Dikira gampang kali meminta spesialis utk mau masuk ke daerahnya. Atau bupatinya sendiri yang akan menggantikan posisi SpOG tsb” @ Saputra.

“Miris hati mendengar seperti ini….seorang dokter spesialis dipindahkan kepuskesmas…tidak jarang ada seorang dokter spesialis mau mengabdikan dirinya ke kabupaten yg sangat jauh.tolong pencerahan…..!!!! Bisa bayangkan tidak dokter spesialis…diberikan surat perintah….apa ini perjalanan dinas….makanya diperintah….!!!! Bingung saya..sekali lagi.tolong pencerahannya…” @ RoseLina.

Bupati arogan @ Didit Pramudhito

Di antara sekian banyak komentar, ada juga faceboker yang pesimis bahwa Bupati Nias akan mendengarkan tuntutan Patrianef Patrianef tadi.

Mana ada tanggapan? Hehehe @ Daniel Hia.

Ada-ada saja …!

Penulis: Cipto

 

 

 

Baca Juga: