Pemerintah Kembangkan Industri Pulp dan Kertas

Foto: Istimewa

Riau-SuaraNusantara

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan,  industri pulp dan kertas berkontribusi signifikan bagi perekonomian nasional sehingga ditetapkan sebagai salah satu sektor yang diprioritaskan pengembangannya sesuai Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional.

“Hal ini sangatlah tepat karena Indonesia memiliki keunggulan komparatif terutama terkait bahan baku, di mana produktivitas tanaman kita jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara pesaing yang beriklim subtropis,”  kata  Airlangga Hartarto ketika melakukan kunjungan kerja di PT RAPP, Riau, beberapa saat lalu.

Menurutnya, negara-negara North America dan Scandinavia (NORSCAN) yang menjadi pemasok utama pulp dan kertas di dunia, menunjukkan kecenderungan produksi yang semakin menurun. Saat ini telah bergeser ke Asia Tenggara terutama Indonesia serta negara-negara Amerika Latin seperti Chili, Brasil, dan Uruguay.

Kemenperin mencatat, daya saing industri pulp dan kertas Indonesia di kancah internasional cukup terkemuka, di mana industri pulp menempati peringkat ke-10dan industri kertas di posisi ke-6 dunia, sementara di Asia menduduki tangga ke-3 untuk industri pulp dan kertas.

Kemudian, dilihat dari peranannya dalam perekonomian nasional, antara lain yaitukontribusinya dalam ekspor yang mampu mencapai USD5,1 miliar pada tahun 2016. Sementara itu, berdasarkan data sampai dengan kuartal III tahun 2017, ekspor pulp dan kertas meningkat 18,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2016. Selanjutnya, kontribusi industri pulp dan kertas terhadap pembentukan PDB pada triwulan III tahun 2017 sebesar 0,71 persen.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto juga meninjau kemajuan dari pembangunan pabrik Asia Pacific Rayon (APR) yang merupakan pabrik rayon terintegrasi terbesar di Indonesia. Nilai investasi proyek ini mencapai Rp 10,9 triliun dengan kapasitas produksi hingga 350 ribu ton per tahun.

“Pembangunan pabrik rayon ini memiliki arti strategis, karena akan memperkuat struktur industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional,” tegasnya. Selain itudiharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap produk impor terutama pada bahan kapas dan rayon, yang diperkirakan dapat menghemat devisa sekitar USD500 juta.

“Untuk itu, kami mengapresiasi investasi dan komitmen APR yang telah mendukung agenda pemerintah terhadap industri strategis nasional, yakni sektor TPT agar bisa lebih berkompetisi di pasar global,” tutur Menperin. Saat ini, di Indonesia terdapattiga pabrik rayon, dengan total kapasitas nasional terpasang sebesar 565 ribu ton pertahun.

Selain berorientasi pada aspek hilirisasi, pabrik APR ini juga mampu menciptakan lapangan kerja baru untuk memenuhi pasar domestik. Sebanyak 4.230 tenaga kerja baru diserap pada tahap pembangunan dan 1.218 kesempatan kerja tersedia pada tahap operasional.

Pendirian pabrik APR ini juga berpotensi meningkatkan PDB Provinsi Riau sebesar 1,49 persen dari sektor nonmigas serta mendorong geliat industri kecil dan menengah di berbagai sektor usaha yang terlibat dalam kegiatan operasional pabrik. Hal ini akan membawa efek berantai bagi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, terutama di Provinsi Riau dan Indonesia pada umumnya.

Kontributor: MAS

 

Baca Juga: