Paus Fransiskus Minta Dunia Hormati Status Quo Yerusalem

Kota suci Yerusalem (Foto: BBC)

Vatikan-SuaraNusantara

Paus Fransiskus meminta komunitas internasional untuk menghormati ‘status quo’ Yerusalem, di tengah polemikPresiden AS Donald Trump yang secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, di Gedung Putih, Washington, Rabu (6/12/2017) waktu setempat.

Dalam pernyataannya, Trump bahkan mengumumkan rencana pemindahan Kedutaan Besar AS untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem. Pengakuan terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan rencana pemindahan Kedubes AS ini kemudian memancing reaksi keras dari dunia internasional.

“Saya tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran besar saya terhadap situasi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini. Namun saya meminta secara tulus kepada semua pihak agar tetap berkomitmen untuk menghormati ‘status quo’ kota itu dan sejalan dengan resolusi PBB yang berlaku,” ujar Paus Fransiskus, di Vatikan, Kamis (7/12/2017) .

Menurut Paus Fransiskus, Yerusalem merupakan kota suci bagi umat Yahudi, Kristen, dan Islam, yang memiliki tempat-tempat suci berdasarkan kepercayaan masing-masing umat di kota itu. “Dan seharusnya itu menjadi kota yang penuh kedamaian,” kata Paus Fransiskus.

Paus pun berdoa agar identitas Yerusalem sebagai kota suci 3 agama bisa dijaga dan dikuatkan demi Tanah Suci, Timur Tengah dan seluruh dunia, dan agar kebijaksanaan juga kehati-hatian bisa diberlakukan.

Ditambahkan Paus Fransiskus bahwa menjaga status quo itu penting ‘demi menghindari munculnya elemen ketegangan baru’ di dunia yang telah bobrok oleh begitu banyak konflik.

Sebelum menyampaikan pernyataan ini, Paus Fransiskus bertemu dengan sekelompok warga Palestina yang ikut dalam dialog lintas agama di Vatikan.

Sedangkan sehari sebelumnya, Paus asal Argentina ini berbicara via telepon dengan Presiden Palestina Mahmud Abbas. Percakapan telepon itu membahas rencana Trump mengakui Yerusalem dan memindahkan Kedutaan Besar AS ke sana.

Masalah Palestina-Israel memang pelik. Tanah Palestina sejatinya adalah milik bangsa Yahudi, namun ketika bangsa ini terusir dari tanah airnya dan tercerai berai selama ribuan tahun, bangsa Arab pun masuk dan beranak pinak di tanah tersebut.

Akibat peristiwa holocoust yang dilakukan NAZI pada era Perang Dunia II yang mengakibatkan jutaan orang Yahudi tewas di Eropa, muncul gerakan untuk kembali ke tanah air sendiri. Maka sejak Perang Dunia II usai, bangsa Yahudi pun banyak yang memilih pulang ke kampung halaman.

Persoalan timbul, karena tanah yang disebut sebagai kampung halaman itu telah diisi oleh orang-orang Arab. Pertikaian pun berlangsung sejak dekade 1960-an hingga saat ini.

Penulis: Yon K

 

Baca Juga: