Misteri Tanjakan Emen yang Kerap Minta Tumbal Nyawa Pengendara

Bus Pariwisata Nopol F 7959 AA yang mengalami kecelakaan di Tanjakan Emen (Foto: istimewa)

Jakarta-SuaraNusantara

Sebanyak 27 penumpang bus Premium Passion bernomor polisi F 7959 AA meninggal dan puluhan lainnya terluka akibat kecelakaan di Tanjakan Emen, Subang.

Penyebab kecelakaan diduga karena rem bus mengalami blong, Polisi sendiri belum bisa memastikan sepenuhnya penyebab kecelakaan karena masih menunggu keterangan dari sopir bus.

Kontributor SuaraNusantara, Hamidah, melaporkan bahwa sang sopir, Amirudin (32), selamat namun masuk dalam daftar korban luka ringan dan masih dalam penanganan medis.

“Sopir belum bisa kita mintai keterangan,” kata Kapolres Subang AKBP Muhammad Joni kepada wartawan di RSUD Subang, Jalan Brigjen Katamso, Dangdeur, Subang, Minggu (11/2/2018).

Tanjakan Emen sepanjang 3 kilometer merupakan jalanan berkontur naik turun dan belokan di Jalan Raya Subang-Bandung via Ciater, tepatnya di Kampung Cicenang, Desa/Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, memang dikenal sebagai jalur maut yang kerap meminta korban. Banyak orang percaya tanjakan ini angker.

Ini bukan kali pertama Tanjakan Emen memakan korban jiwa. Sebelumnya, ada sekitar lima kecelakaan maut skala besar  yang pernah terjadi di Tanjakan Emen dan selalu menelan korban tewas. Tentu tidak terhitung sudah berapa banyak kecelakaan skala kecil terjadi di sana.

Beragam kejadian aneh di Tanjakan Emen juga menambah kesan angker daerah ini, Peristiwa aneh seperti kendaraan tiba-tiba mogok, rem blong, sopir atau penumpang kendaraan bermotor kesurupan saat melintas, sudah sering terdengar.

Sebenarnya bagaimana asal usul Tanjakan Emen ini?

Sedikitnya ada 3 versi yang beredar mengenai asal usul tanjakan yang dipenuhi aura mistis ini. Versi pertama menyebutkan Emen adalah seorang sopir oplet, semacam mikroklet yang puluhan tahun lalu banyak beroperasi di Jakarta dan Jawa Barat.

Emen mengemudikan oplet jurusan Bandung-Subang. Dia dikenal sebagai satu-satunya sopir yang berani mengemudikan kendaraan pada malam hari. Perlu diingat pada masa itu belum ada penerangan seperti sekarang sehingga suasana malam hari di sana sangat menyeramkan dan berbahaya, karena bila tidak hati-hati maka musibah kecelakaan pasti terjadi.

Sayangnya, meski sudah hafal lika-liku jalur tersebut, Emen tewas terbakar hidup-hidup dalam kecelakaan di sana saat mengangkut ikan asin dari Ciroyom Bandung menuju Subang, pada tahun 1964.

Setelah peristiwa itu, warga sekitar meyakini arwah Emen bergentayangan dan mengganggu para pengemudi, terutama pada malam hari. Kejadian rem blong, bus tergelincir dan kendaraan terperosok kerap terjadi di jalur ini.

Versi kedua menyebutkan Emen adalah kondektur/kernet bus. Insiden terjadi pada tahun 1969. Saat itu Emen sedang mengganjal ban Bus Bunga, yang mogok di tanjakan. Naas, rem bus tersebut blong sehingga Emen terdorong bersama bus dan terlindas hingga meninggal dunia.

Sejak kejadian itu, sering terjadi penampakan arwah Emen dan terjadi kecelakaan di sana, sehingga kemudian tanjakan tersebut dikenal dengan sebutan Tanjakan Emen.

Versi ketiga mengatakan, Emen adalah seorang korban tabrak lari di daerah itu. Bukannya ditolong, jenazah Emen malah disembunyikan dalam rimbunan pepohonan. Sejak saat itulah, arwah Emen dipercaya menuntut balas. Untuk tahun kejadian versi ini tidak diketahui kapan terjadinya.

Menurut kepercayaan warga setempat, agar tak diganggu arwah Emen, para pengemudi, terutama sopir bus, biasanya menyalakan sebatang rokok dan melemparkannya ke pinggir jalan sebagai ‘persembahan’ untuk Emen. Semasa hidupnya, Emen memang dikenal sebagai perokok berat yang selalu merokok saat mengemudi.

Kedengarannya tidak masuk akal memang. Apakah mungkin warga berpikir kalau asyik merokok, arwah Emen bisa lupa sejenak untuk mengganggu pengendara? Tapi boleh percaya, boleh tidak, semua pengendara bus yang mengalami gangguan atau kecelakaan di wilayah ini diketahui semuanya tidak melemparkan rokok sebelum mengalami kecelakaan.

Dari ketiga versi mengenai asal usul Tanjakan Emen, versi yang mengatakan bahwa Emen adalah sopir oplet yang tewas terbakar adalah versi yang paling bisa dikatakan mendekati kebenaran. Sebab, putra Emen sendiri membenarkannya.

Pada saat peristiwa tragis yang dialami Emen terjadi, seorang anaknya bernama Wahyu, masih berusia 8 tahun. Menurut Wahyu, oplet yang dikendarai ayahnya menabrak tebing, terbalik kemudian terbakar. “Cuma dua orang yang selamat dari kecelakaan itu,” kata Wahyu suatu ketika.

Namun Wahyu membantah bila arwah ayahnya yang menggangu para pengendara. Wahyu yang mewarisi jejak ayahnya dengan menjadi  sopir angkot di Lembang ini menuturkan bahwa sang ayah tidak meninggal di tanjakan tersebut, tapi di Rumah Sakit Ranca Badak. Jenazah Emen pun disemayamkan di pemakaman umum di daerah Jayagiri, Lembang.

Penulis: Yono D

 

 

 

 

 

 

Baca Juga: