18 Ponpes Bakal Dijadikan Percontohan Program Santripreneur

Kediri-SuaraNusantara

Kementerian Perindustrian menargetkan 18 pondok pesantren yang akan menjadi percontohan dalam pelaksanaan program Santripreneur pada tahun 2018. Pondok pesantren tersebut meliputi delapan di wilayah Jawa Barat, lima di Jawa Tengah, dan lima di Jawa Timur.

“Kami ingin membuat para santri bisa melakukan proses industri di kehidupannya. Selain mempelajari agama di pesantren, kami bantu memberikan kegiatan ekonomi kepada mereka,” kata Direktur Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kimia, Sandang, Aneka dan Kerajinan Ratna Utarianingrum ketika mendampingi Menteri Perindustrian berkunjung ke di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, adanya aktivitas industri, akan membawa efek berantai pada peningkatan nilai tambah terhadap bahan baku lokal dan penyerapan tenaga kerja. “Jadi, selain mengembangkan sumber daya manusia di lingkungan pondok pesantren, Santripreneur menjadi sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar,” tutur Ratna.

Ia optimistis, para santri mempunyai kemampuan untuk belajar di industri. “Potensi mereka cukup besar, terlebih lagi jumlah santri di pondok pesantren yang banyak,” ungkapnya. Para santri ini akan dibekali dengan beragam pelatihan dan pengetahuan, sehingga mereka bisa produktif.

“Kekuatan santri yang besar ini sangat bagus dirasakan. Kami akan bekali dengan bimbingan teknis pengetahuan, pelatihan yang disesuaikan dengan potesi yang ada di pesantrennya. Kami juga fasilitasi bantuan peralatan permesinan, teknologi yang digunakan dan juga fasilitasi untuk mendapatkan akses ke lembaga pembiayaan,” paparnya.

Sebelumnya, Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin Gati Wibawaningsih menyampaikan, untuk pilot project Santripreneur pada tahun 2017 telah dilaksanakan di Provinsi Jawa Timur, yakni Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan dan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

“Kegiatan yang telah dilaksanakan di Pondok Pesantren Sunan Drajat meliputi bimbingan teknis serta bantuan mesin dan peralatan untuk pengolahan ikan, pembuatan alas kaki, perakitan lampu LED, pembuatan kecap, produksi garam serta peningkatan kapasitas manajemen SDM,” jelasnya.

Bahkan, Kemenperin juga mendorong lingkungan pondok pesantren memanfaatkan perkembangan teknologi digital saat ini, salah satunya melalui penggunaan aplikasi Financial Technology (Fintech). Upaya ini diharapkan mampu menumbuhkan semangat santri untuk berwirausaha atau santripreneur terutama dalam skala IKM.

“Ini merupakan komitmen bersama untuk membangun bangsa khususnya di lembaga pendidikan pondok pesantren dengan meluncurkan aplikasi mobile karya anak bangsa sebagai produk asli dalam negeri dengan nama Mobile Fintech and Commerce Nurul Iman,” ujarnya ketika mengunjungi Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman di Bogor, akhir pekan lalu.

Menurut Gati, kegiatan ini terlaksana atas kerja sama Kemenperin dengan PT. Data Aksara Matra sebagai penyedia aplikasi teknologi dan PT. Bank Tabungan Negara, Tbk. divisi syariah selaku penyedia layanan jasa perbankan. “Selain memberikan kemudahan dan keamanan kepada para santri dalam bertransaksi, penerapan Fintech ini diharapkan pula membawa efek positif bagi perekonomian nasional,” tuturnya.

Kontributor: Maryono

Baca Juga: